Bahagia - Akhir Tak
Kita tidak tumbuh bersama; kita hanya berdampingan dalam ruang yang sama, seperti dua pohon yang akarnya saling mencekik di bawah tanah. Dulu, kau bilang cinta itu tentang bahagia. Aku setuju, sebab kala itu senyummu adalah matahariku. Tapi perlahan, senyum itu berubah menjadi daftar panjang tentang apa yang salah dariku.
Inilah akhir tak bahagia. Bukan karena kita berakhir di pelukan orang lain. Bukan karena kita saling membenci. Tapi karena kita membiarkan cinta ini mati perlahan, dan kita memilih untuk menyaksikannya. Tidak ada ledakan. Tidak ada air mata di stasiun kereta. Hanya ada keheningan yang begitu sempurna sehingga kau bisa mendengar patah hati merambat seperti retakan di dinding. Akhir Tak Bahagia
Lalu suatu sore, di tengah hujan yang tidak pernah reda, kau berkata, "Aku capek." Aku mengangguk, padahal hatiku seperti kaca yang jatuh dari lantai dua puluh. Tidak pecah—hancur. Hancur perlahan, menjadi butiran debu yang bahkan tidak bisa kukumpulkan lagi. Kita tidak tumbuh bersama; kita hanya berdampingan dalam
Akhir tak bahagia bukanlah akhir dari segalanya. Tapi ia adalah akhir dari kita. Dan itu sudah cukup. This text reflects on a love that quietly dies not from drama or hate, but from emotional distance, exhaustion, and the fear of ending things. The "unhappy ending" is not tragic in a loud way—it’s the silent, slow collapse of two people who once loved each other but no longer know how to stay. Tapi perlahan, senyum itu berubah menjadi daftar panjang